Telur Bertuliskan Allah Di Bandung

•31 Juli 2007 • & Komentar

Sebutir telur berlafadz Allah milik Ucup Supari (28) seorang pedagang telur gulung di kawasan Kiaracondong, Kota Bandung, menggemparkan warga setempat dan mereka pun berdatangan untuk melihat telur aneh itu dari dekat. “Telur itu dibeli di warung Pak Cecep sepekan lalu. Setelah diteliti, dari beberapa butir telur ayam negeri itu salah satunya ada yang aneh. Saat diamati secara seksama ternyata berlafadz Allah,” kata Ucup Supari, Senin.

Ditemui wartawan di kediamannya di Jalan Kiaracondong Barat, Nomor 68, RT 05/08, Kelurahan Kebon Gedang, Kecamatan Batununggal, Ucup, mengatakan, telur berlafadz Allah yang menyembul dari kulit telur yang berwarna coklat itu sudah dikonsultasikan kepada sejumlah ustadz termasuk Aa Gym. “Menurut pendapat sejumlah ustadz, kulit telur ayam negeri milik saya itu memang berlafadz Allah dan mereka meminta agar saya menjaga telur tersebut dengan sebaik-baiknya,” kata Ucup yang mengaku lebih bersemangat hidup setelah mendapatkan telur aneh tersebut.

Kini telur tersebut dipamerkan di rumahnya dan sejak tiga hari lalu sudah banyak warga yang berkeinginan untuk melihat dari dekat telur aneh milik Ucup Supari itu.(*)

Penelitian Terbaru, Kulit Semangka Bisa Menjadi Obat

•25 Juli 2007 • & Komentar

Hasil penelitian terbaru, seperti dikutip kantor berita Arab Saudi (SPA) Minggu (22/7), menyebutkan bahwa kulit semangka juga dapat menyembuhkan sedikitnya lima macam penyakit.

Penyakit-penyakit yang bisa disembuhkan oleh kulit semangka adalah darah tinggi kronis, radang ginjal, sulit buang air kecil, sulit buang air besar kronis dan penyakit dropsy (sakit gembur-gembur).

Hasil penelitian yang dilakukan Lembaga Medis Biologi yang disiarkan oleh Majalah Riset Medis Yordania itu juga memberikan jaminan bagi pasien dapat sembuh setelah melakukan pengobatan selama sebulan dengan teratur.

Untuk darah tinggi disarankan untuk mengeringkan kulit semangka lalu ditumbuk halus. Setiap hari diambil 20 gram dari kulit yang telah ditumbuk itu dan dimasak dengan air secukupnya. Pasien yang meminumnya secara teratur selama sebulan, penyakit darah tingginya bisa tersembuhkan secara total.Sedangkan empat penyakit lainnya disarankan untuk memotong kecil kulit semangka tersebut lalu dimasak sehingga menjadi adonan lalu disimpan di dalam botol kaca yang ditutup rapi.

Pasien penderita radang ginjal, sulit buang air kecil, sulit buang air besar kronis dan penyakit gembur-gembur, dianjurkan memakan adonan tersebut satu sendok makan sehari sebelum sarapan selama sebulan.“Apabila pasien mengikuti petunjuk tersebut dengan teratur paling sedikit selama sebulan penuh, maka penyakit-penyakit tersebut akan sembuh total dengan izin Allah,” demikian hasil penelitian tersebut.

Dengan adanya hasil penelitian terbaru tersebut, warga Arab yang dikenal memang doyan makan buah semangka, kemungkinan tidak akan membuang kulitnya ke sampah, tapi akan disimpan menjadi bahan obat.(*) @Antara

Nyeri Kepala Gejala Awal Tumor Otak

•24 Juli 2007 • & Komentar

Nyeri kepala adalah nyeri yang paling banyak dikeluhkan penderita selain nyeri pinggang saat berobat ke dokter, dan nyeri kepala merupakan gejala awal yang diderita sekitar 30 persen pederita tumor otak.

“Gejala tumor otak tergantung letak dan kecepatan pertumbuhannya. Namun gejalanya muncul secara tersamar yang biasanya dimulai dengan gangguan mental ringan yang hanya dapat dirasakan oleh orang yang berhubungan dekat dengan penderita, seperti mudah tersinggung, emosinya labil, pelupa, lamban dan kurang inisiatif, serta depresi,” kata dokter ahli saraf di Lampung, dr Ruth Mariva SpS di Bandarlampung, Sabtu.

Dalam seminar sehari tentang nyeri kepala yang diselenggarakan RS Imanuel Way Halim, di Bandarlampung itu, Ruth mengatakan nyeri kepala biasanya sulit digambarkan dan bervariasi, mulai dari yang ringan dan episodik sampai berat dan berdenyut atau meletup, yang umumnya bertambah berat pada malam, saat bangun pagi dan saat perubahan posisi.

Pada awalnya, nyeri kepala tumor disebabkan pembengkakan lokal sekitar tumor atau akibat kerusakan pembuluh darah sekitar tumor, dan akhirnya disebabkan oleh tekanan tinggi di dalam kepala.

Selain nyeri kepala, katanya, pada tumor otak juga ditemukan gejala mual muntah terutama jika lokasi tumor di bagian belakang, kejang- kejang, dan mengalami gangguan penglihatan dan kelemahan saraf lainnya.

“Penderita biasanya datang ke dokter dengan keluhan nyeri kepala di daerah depan (dahi) dan kepala belakang, yang biasanya sudah berlangsung lama dan progresif,” katanya.

Berdasarkan penelitian IHS (International Headache Society) tahun 1988 dan disepakati oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI), terdapat 13 kelompok nyeri kepala, di antaranya adalah migren, nyeri kepala tipe tegang, nyeri kepala akibat trauma kepala, nyeri kepala akibat infeksi, dan nyeri kepala akibat gangguan metabolik.

Jika dilihat dari waktu dan lamanya serangan, nyeri kepala dapat dibagi atas nyeri kepala akut dan kronis.

Menurut dr Ruth, nyeri kepala akut dan hebat memerlukan penanganan segera karena merupakan gejala dari penyakit- penyakit berbahaya, seperti penyakit pada pembuluh darah otak (stroke, thrombosis, hipertensi maligna), infeksi otak ( meningitis, ensefalitis, abses) dan keracunan karbon monoksida.

Disebutkannya, kebanyakan nyeri kepala merupakan gejala yang ringan, namun dapat juga sebagai gejala suatu penyakit yang serius atau berbahaya, misalnya apabila nyeri kepala hebat secara tiba-tiba, bertambah berat dan progresif, disertai kejang dan pingsan, terjadi saat aktifitas dan gangguan penglihatan.

Ruth menambahkan , nyeri kepala harus ditangani secara komprehensif, tidak hanya mengobati gejala/ keluhannya saja dengan memberikan obat penghilang nyeri, tetapi juga dengan mendeteksi dan menyingkirkan penyebab terjadinya keluhan tersebut.

Penggunaan obat nyeri kepala yang tidak tepat dan berlebihan akan menimbulkan ketergantungan dan nyeri kepala susulan yang berkepanjangan.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyebutkan bahwa 20 persen pasien yang berobat ke Poliklinik Saraf RS Imanuel Bandarlampung, Januari- Juni 2007, adalah penderita nyeri kepala. Sekitar 65 persen penderitanya adalah wanita dan lebih dari 50 persen menderita nyeri kepala tegang.
(*)@Antara

Kenali Penyebab Nyeri Pada Saat Melahirkan

•19 Juni 2007 • 1 Komentar

Mendekati proses persalinan berbagai perasaan akan campur aduk dalam hati para ibu hamil. Selain tak sabar ingin melihat buah hatinya lahir ke dunia, rasa takut dan cemas menghadapi proses persalinan pun berkecamuk dalam pikiran. Melahirkan dan rasa sakit memang sudah menjadi kesatuan yang tak bisa dipisahkan.

Ketika bersalin, sebagian besar wanita memang mengalami nyeri yang sangat hebat, bahkan terkadang melebihi dugaan mereka sebelumnya. Menurut dr.Iskandar Zulkarnaen, Spesialis Anastesi dari Klinik SamMarie, Jakarta, nyeri pada proses persalinan terjadi akibat adanya kerusakan jaringan yang nyata.

Nyeri pada proses persalinan akan melalui empat tahap, yakni tahap I (pembukaan), biasanya nyeri pada tahap ini diakibatkan kontraksi rahim dan peregangan mulut rahim. Tahap II (kelahiran), nyeri timbul karena peregangan dasar panggul dan pengguntingan perineum (bibir kemaluan) jika diperlukan. Tahap III adalah nyeri yang timbul karena pelepasan plasenta, dan tahap terakhir nyeri yang ditimbulkan karena penjahitan luka perineum.

“Agar rasa sakit tidak muncul, pusat nyeri harus diblok,” kata dr.Iskandar. Cara mengatasi nyeri bisa berupa pemberian obat-obatan maupun tanpa obat. Sebenarnya sejak tahun 1874 telah digunakan metode penghilang nyeri saat persalinan, yakni dengan menggunakan diethyl ether. Namun saat ini dokter banyak menggunakan obat analgetik untuk mengurangi nyeri.

Untuk mengurangi efek samping akibat penyuntikan obat, bagian yang diblok hanya pusat otot sensoriknya saja yang disuntikkan di bagian punggung atau tulang belakang, atau disebut juga dengan analgesia epidural. Dosis yang dipakai pun sangat sedikit sehingga pengaruhnya pada ibu dan bayi sangat minimal.

Sementara itu, cara non farmakalogi yang bisa dilakukan untuk menghilangkan nyeri antara lain mempersiapkan mental sejak awal kehamilan. “Jika calon ibu dalam keadaan tenang dan rileks, maka rasa sakit ketika kontraksi tidak akan terlalu dirasa,” ujarnya. Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan mengikuti senam hamil yang akan membantu refleks saat melahirkan. Kompas.com

Tidur Siang Hari Dapat mengurangi Risiko Serangan Jantung

•19 Juni 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Diet tradisional ala Mediterania yang amat tinggi mengandung sayuran serta serat baik untuk jantung.

Tradisi Mediterania lainnya adalah tidur siang yang juga terbukti mengurangi resiko kematian akibat penyakit jantung, demikian laporan DPA.

Hal tersebut berdasarkan studi bersama yang dilakukan ilmuwan Yunani dan Amerika di Marburg yang merupakan markas dari “German Green Cross” (DGK/Palang Hijau Jerman).

Studi oleh Sekolah Kedokteran Athena di Yunani serta Universitas Harvard Jurusan Kesehatan Publik di Amerika Serikat tersebut dilakukan terhadap lebih dari 20 ribu orang Yunani yang berusia antara 20 tahun dan 86 tahun yang berpartisipasi dalam penelitian kanker Eropa.

Para peserta penelitian harus menjawab berbagai pertanyaan yang di antaranya adalah apakah mereka melakukan tidur siang dan seberapa sering.

Dari penelitian tersebut didapatkan orang yang suka tidur siang memiliki risiko kematian akibat sakit jantung 34 persen lebih rendah. Jika frekuensi tidur siangnya lebih banyak, maka risiko kematiannya akan lebih rendah, terutama untuk lelaki pekerja.

DGK memberi catatan, karena kesimpulan tersebut diambil dari “penelitian observasi prospektif”, bisa jadi faktor-faktor lainnya selain tidur siang juga dapat mengurangi kematian akibat sakit jantung. (*) ANTARA

Bahaya Radiasi jaringan nirkabel wireless-fidelity (Wi-Fi)

•15 Juni 2007 • & Komentar

Apakah jaringan nirkabel wireless-fidelity (Wi-Fi) benar-benar menjadi ancaman kesehatan bagi manusia? Pertanyaan itu muncul dan memancing perdebatan setelah Panorama–program stasiun televisi Inggris, BBC–menyiarkan hasil investigasinya pada awal pekan lalu.

Menurut temuan Panorama, tingkat radiasi yang dipancarkan perlengkapan Wi-Fi pada satu sekolah di Norwich, yang memiliki lebih dari seribu murid, lebih tinggi ketimbang tingkat radiasi yang dipancarkan dari menara transmisi operator telepon seluler umumnya. Pengukuran Panorama menunjukkan kekuatan sinyal Wi-Fi di dalam ruang kelas itu tiga kali lebih kuat daripada intensitas radiasi dari menara ponsel.

Temuan ini dianggap signifikan karena anak-anak memiliki tengkorak yang lebih tipis ketimbang orang dewasa dan masih dalam tahap pertumbuhan. Pengujian menunjukkan bahwa anak-anak menyerap radiasi yang lebih banyak daripada orang dewasa.

Di perkotaan Inggris, hotspot Wi-Fi muncul bak jamur. Menurut Panorama, dalam 18 bulan terakhir ada 2 juta pengguna Wi-Fi baru. Wi-Fi digunakan pada 70 persen sekolah secondary dan 50 persen sekolah primer.

Berbeda dengan Panorama, pengukuran tingkat radiasi di sekolah Norwich itu jauh di bawah ambang batas keamanan yang dibuat pemerintah. Bahkan masih 600 kali di bawah ambang batas. Tapi sebagian ilmuwan menduga basis ambang batas itu tidak benar. Para saintis juga prihatin dengan tidak adanya penelitian tentang dampak radiasi jaringan nirkabel (Wi-Fi). Padahal untuk riset serupa pada ponsel dan menara radio ada ribuan.

Efek radiasi bagi kesehatan, menurut Profesor Olle Johansson dari Karolinska Institute in Swedia, yang diwawancarai Panorama, “Jika melihat literatur, Anda bisa temukan sejumlah efek radiasi, seperti kerusakan kromosom, berdampak pada kapasitas konsentrasi dan menurunnya memori jangka pendek, serta meningkatnya kejadian berbagai tipe kanker.”

Ilmuwan lain, Dr Gerd Oberfeld dari Salzburg, mengatakan saatnya Wi-Fi dicabut dari sekolah-sekolah. Alasannya, “Jika Anda melihat data, akan tampak gambaran yang jelas–ini seperti puzzle dan semua cocok, dari pecahnya DNA pada tingkat penelitian binatang hingga kejadian epidemiologis, misalnya peningkatan gejala dan tingkat penyakit kanker.”

Namun, investigasi Panorama langsung ditanggapi kalangan ilmuwan, teknisi, dan pengguna Wi-Fi. Menurut saintis, investigasi dari program dokumentasi BBC itu tak berdasar konsep ilmiah dan cerita yang menakut-nakuti. TEMPO Interaktif

Paddy Regan, fisikawan dari University of Surrey, misalnya, mengkritik metode pengukuran Panorama yang tak fair. Menurut juru bicara Panorama kepada Guardian, perbandingan pengukuran dilakukan dari jarak 1 meter untuk komputer jinjing dan wireless router Wi-Fi serta 100 meter dari menara ponsel. Menurut Regan, tak mengherankan kalau hasilnya tiga kali lipat lebih tinggi.

“Aturan fundamental dalam pengukuran ilmiah adalah Anda harus mencoba membandingkan sesuatu berdasarkan hukum akar terbalik. Untuk membuat perbandingan yang adil antara dua sumber radiasi, pengukuran harus dilakukan dari jarak yang sama.” Tapi juru bicara Panorama mempertahankan kesahihan metodologi penelitiannya. Menurut dia, “Titik yang memiliki intensitas tertinggi dari menara ponsel adalah ketika ia menyentuh tanah.”

Sejauh ini para ilmuwan percaya bahwa Wi-Fi lebih aman ketimbang radiasi ponsel karena peralatan Wi-Fi mengirimkan sinyal pada jarak yang lebih pendek sehingga dapat beroperasi pada kekuatan rendah. Menurut Health Protection Agency, seseorang yang duduk di dalam area hotspot selama setahun terus-menerus menerima dosis radiasi yang sama dengan orang yang menggunakan ponsel selama 20 menit. @TEMPO Interaktif

Membersihkan Usus itu Perlu!

•15 Juni 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kalau Anda terbiasa menjejalkan bermacam-macam makanan “sampah” dan aneka zat kimia ke perut, usus bisa berkerak. Usus sekotor itu akan menghambat penyerapan zat gizi, sehingga mudah mengundang penyakit. Cuci usus atau urus-urus cara baru bisa menjadi alternatif untuk membersihkan alat cerna kita.

Seorang wanita berusia 44 tahun, sebut saja Elisabeth, merasa kelebihan berat badan. Tinggi tubuhnya tak lebih dari 153 cm, tetapi bobotnya mencapai 64 kg. Tak mengherankan itu terjadi karena nafsu makan ibu tiga anak ini sulit dikendalikan. Meski merasa tidak percaya diri dengan kondisi itu, bila melihat bakso, pangsit, dan jajanan lain, ia tetap saja tergiur.

Ketika mengetahui tentang teknik cuci usus yang ditawarkan sebuah klinik, ia langsung tertarik. Dokter mengatakan, colon hydrotherapy ini bisa membantu mengatasi masalahnya. Liz disarankan melakukan terapi itu dua kali seminggu, sebanyak enam kali.

Usai pembersihan pertama, perutnya sudah terasa nyaman. Anehnya lagi, nafsu makannya tidak menggebu-gebu seperti dulu. Setelah dua kali pembersihan, berat badannya mulai turun sebanyak 4 kilogram.

Selain terapi cuci usus dengan air ini, ia juga mengatur pola makan. Konsumsi sayur dan buah diperbanyak, sementara lemak dihindari. Hasilnya, badan Liz kembali langsing dan penampilannya pun jadi tampak lebih muda, seperti saat remaja. Wah, bahagianya!

Istilah colon hydrotherapy makin akrab di telinga kita akhir-akhir ini. Penggunaan teknik cuci usus ini tampaknya tambah marak. Di zaman penjajahan Belanda, menurut Prof. DR. Dr. Walujo Soerjodibroto, Sp.GK (K), MSc., para dokter dari negeri kincir angin sudah menjalankan terapi membersihkan usus rutin setiap tahunnya.

Mereka memakai broklak atau garam inggris untuk menguras kotoran dan racun yang mengendap di usus. Kaum awam pun akhirnya ikut memanfaatkannya.

Selain broklak, kini makin banyak bahan yang bisa dipakai untuk obat urus-urus (cuci usus). Kalau Anda berselancar di internet untuk mencari bahan pencuci usus, akan menjumpai beragam tawaran produk alami.

Kebanyakan memang sudah dikemas dalam bentuk pil atau kapsul sebagai suplemen. Isinya tanaman yang bersifat laksatif (pencahar), misalnya lendir daun lidah buaya dan ekstrak biji pohon jarak.

Bahan lain yang telah dimanfaatkan adalah daun senna (Alexandrian senna atau Khartoum senna) atau Cassia angustifolia Vahl, yang dikenal sebagai Tinnevelly senna. Daun ini mengandung tak kurang dari 2,5 persen hidroksiantrasena glikosida, dan bahan aktif utamanya antrakuinon glikosida. Bahan ini dijadikan obat pencuci perut karena zat aktifnya berefek mengurangi penyerapan cairan dan garam, menambah aktivitas peristaltik usus kecil dan usus besar, serta melunakkan tinja.

Bahan lain seperti ekstrak rizom dan akar dari Rheum officinale Baillon atau dari Rheum palmatum Linné (famili Polygonaceae), mengandung antrakuinon glikosida (3 – 7,5%) yang juga digunakan sebagai obat pencuci perut dan memiliki efek utama seperti senna. Hasilnya, tinja lunak dan kerja usus pun jauh lebih enteng.

Menjamurnya program cuci usus dengan asupan ramuan herbal atau memasukkan cairan lewat anus, menurut Prof. Walujo, merupakan bentuk kesadaran bahwa perut orang sekarang tak lagi bersih dan sehat.

“Dari zaman batu sampai sekarang, menurut penelitian, struktur dan fungsi tubuh manusia tidak berubah kecuali dalam hal ketegapan atau berkurangnya bulu-bulu tubuh,” ungkap spesialis gizi dari Departemen Gizi Universitas Indonesia ini.

Itu artinya, organ tubuh manusia sebetulnya tidak bermasalah. Yang menyebabkan masalah adalah bahan-bahan yang dimasukkan ke dalam sistem pencernaan. Pola makan orang di zaman modern jelas jauh berbeda dengan nenek moyang kita di zaman batu.

Usus manusia didesain khusus untuk makanan jenis tumbuhan, bukan daging. Pada zaman berburu daging memang merupakan salah satu menu, tetapi tidak menjadi makanan pokok. “Itu makanan mewah karena butuh seharian untuk menangkap seekor hewan. Cara mendapatkannya juga tidak mudah,” ujar Prof. Walujo.

Lagipula usus manusia cukup panjang. Kalau digelar, bisa seluas lapangan tenis. Berbeda dengan desain usus makhluk pemakan hewan yang pendek, sehingga bisa lebih cepat mencerna daging.

Selain daging yang mungkin berlebihan porsinya, tambahan asupan yang dicerna usus manusia pada zaman ini beragam. “Boraks dan formalin juga ikut masuk ke usus kita,” katanya.

Kelemahan menu modern adalah kurangnya bahan berserat, kurang hidrat arang alami, berlebihnya hidrat arang sederhana dan olahan, dan yang jelas berlebihan lemak. Usus kita, menurut Prof. Walujo, sudah teracuni banyak zat. Itulah sebabnya cuci usus menjadi populer.

Prof. Walujo yang pernah mencoba colon hydrotherapy merekomendasi cara-cara cuci usus yang saat ini diberlakukan. Masyarakat perlu disadarkan bahwa ususnya penuh kerak yang mengganggu penyerapan zat gizi. Ia juga mengingatkan bahwa cuci usus punya batasan pemakaian.

Pembersihan usus dengan bahan bersifat laksan seperti garam inggris atau tanaman tidak boleh dilakukan terus-menerus. “Sekalipun berasal dari bahan alami, tidak boleh digunakan berulang kali dalam jangka waktu pendek,” kata dokter yang juga berpraktik di RS Tebet, Jakarta Selatan ini.

Bahan-bahan pencuci perut ini sebaiknya digunakan dalam jangka waktu enam bulan sekali. Teknik enema yang menggelontor usus dengan air lewat anus (colon hydrotherapy), juga harus mengikuti prosedur tertentu.

Penggunaan terus-menerus justru bisa merusak usus. “Anak rambut pada usus yang disebut fili bisa hilang dan ini akan mengganggu kemampuan penyerapan usus terhadap zat-zat gizi,” ungkapnya.

Penampang usus semakin kecil dan makanan yang masuk bisa jadi langsung keluar tanpa sempat diserap. Cara alami dengan mengasup sayur dan buah setiap hari sangat dianjurkan. Teknik cuci usus ini sebaiknya terus dilakukan. Bila perlu, hindari zat yang menimbulkan racun seperti pewarna, pengawet, penguat rasa, dan lemak hewani.

Yang terpenting, tambah Prof. Walujo, cuci usus hanya berlaku bagi mereka yang setiap hari mengasup makanan yang tidak aman bagi kesehatan. “Kalau pola makan dan gaya hidup sudah sehat, tidak perlu lagi cuci usus,” ujarnya. @ Abdi Susanto

Anak Mandiri Lebih Cerdas dan Percaya Diri

•15 Juni 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Anak mandiri biasanya mampu mengatasi persoalan yang menghadangnya. Kemandirian itu tentu harus dilatih sejak dini. Orangtua jangan gampang berteriak “tidak” atau “jangan,” bila menginginkan anak cerdas dan penuh percaya diri.

Kemandirian sangat erat terkait dengan anak sebagai individu yang mempunyai konsep diri, penghargaan terhadap diri sendiri (self esteem), dan mengatur diri sendiri (self regulation). Anak paham akan tuntutan lingkungan terhadap dirinya, dan menyesuaikan tingkah lakunya.

Anak mandiri mampu memenuhi tuntutan lingkungannya. Contohnya, anak usia 3-4 tahun yang sudah bisa menggunakan alat makan, harusnya bisa makan sendiri. “Nah, ini yang dimaksud kemandirian,” ujar Roslina Verauli, M.Psi., psikolog klinis anak dari Empati Development Center.

Secara umum kemandirian bisa dilihat dari tingkah laku. Namun, kemandirian tidak selalu berbentuk fisik yang ditampilkan dalam tingkah laku. Ada bentuk emosional dan sosialnya.

Menurut psikolog yang kerap disapa Vera ini, anak mampu berpisah dalam waktu singkat dengan orangtuanya, misalnya saat mulai bersekolah. Anak bisa masuk ke kelas dengan nyaman karena mampu mengontrol dirinya. Ini bentuk secara emosional.

Kemudian secara sosial, anak tidak harus selalu berinteraksi dengan pengasuhnya. Ia bisa berhubungan dengan orang lain secara independen sebagai individu. Sejak usia dini, sekitar 2-3 tahun, anak sebetulnya sudah menunjukkan perilaku dasar mandiri. Orangtua bisa melihat keinginan mandiri itu dengan memperhatikan gejala yang ada.

Perilaku dasar mandiri yang dimaksud Vera adalah perilaku adaptif, yang sesuai dengan usia anak. Di usia 3-4 tahun, anak sudah mulai makan sendiri, menggunakan celana sendiri, dan saat hendak pipis ia bisa ke toilet sendiri. Dengan kata lain, anak bisa melakukan kemampuan dasarnya.

Saat berusia 3-4 tahun dan sudah mulai masuk kelompok bermain atau taman kanak-kanak, anak sudah paham bahwa ia telah mandiri secara emosional. Anak paham ibunya berada di luar kelas, sehingga ia tetap merasa nyaman. Saat merasa takut, anak bisa melihat ibunya sedang menunggu di luar. Ini berarti anak sudah bisa mengontrol dirinya.

Saat anak ingin memegang gelas, sendok, atau peralatan makan, sebenarnya sudah menjadi petunjuk gejala mandiri. Saat itulah orangtua maupun pengasuh bisa melatih anak memegang peralatan makannya dan makan sendiri. Atau saat anak ingin naik tangga sendiri, orangtua sebenarnya bisa memberi kesempatan padanya untuk melakukan hal itu.

Sayangnya, orangtua atau pengasuh kadangkala suka melarang anak melakukan hal tersebut. Banyak alasan atas larangan itu, misalnya, karena khawatir benda yang dipegang anak akan jatuh. Tanpa disadari, larangan itu justru menghambat kesempatan anak untuk belajar mandiri.

Tak sedikit orangtua yang takut bila anaknya yang berusia batita melakukan hal-hal tertentu. Saat anak ingin naik-turun tangga sendiri, kerap tidak diperbolehkan, bahkan langsung digendong. Akibatnya, anak jadi penakut dan tak mampu mengontrol diri sendiri. Tak ada salahnya memperbolehkan anak naik-turun tangga sendiri, tentunya dengan diawasi dan dijaga oleh orangtua maupun pengasuhnya.

“Yang membuat anak terlambat mandiri adalah orangtua yang cenderung terlalu protektif. Mereka merasa tidak nyaman melepaskan anaknya,” ungkap lulusan Fakultas Psikologi UI ini.

Padahal, setiap anak mampu mengukur, seberapa jauh ia dapat mengontrol diri sendiri. Saat berada di ketinggian tertentu, anak mempunyai insting dasar untuk bertahan dan tidak melompat. “Biarkan anak melakukan hal yang diinginkannya, tetapi tetap harus diawasi,” ujar Vera.

Banyak orangtua dinilai Vera tergolong pencemas. Kecemasan itu sebagai bentuk kompensasi dari kesibukan atau perasaan ketidakkompetenan orangtua. Sebagai akibatnya, anak tidak kunjung mandiri. Sebaliknya, Anak malah bersikap manja.

Kemanjaan itu bisa timbul karena perasaan tidak aman dalam dirinya. Perasaan ini muncul karena pola asuh orangtua yang terlalu melindungi, memanjakan, atau karena kepribadian anak yang cenderung penakut. Hal lainnya karena pengaruh lingkungan. Ada lingkungan yang membuat anak merasa terancam.

Bila dibiarkan, bukan tidak mungkin anak akan menjadi manja. Anak tidak mempunyai kemampuan untuk menyadari bahwa ia bisa mengatur diri sendiri.

Saat berada di kehidupan nyata, anak yang manja ini bisa terkaget-kaget. Pasalnya, tak semua orang peduli pada dirinya dan memenuhi keinginannya seperti halnya di rumah. Hal ini akan menciptakan anak yang tidak percaya diri.

Anak yang manja sulit menyesuaikan diri di antara teman-temannya. “Karena ia tidak paham bila berinteraksi sosial dengan orang lain ada aturan yang harus diikuti, bahwa anak harus saling berbagi, dan lain-lain,” sebut Vera. Rentang toleransi anak manja biasanya rendah.

“Tetapi, tidak ada kata terlambat untuk melatih anak menjadi mandiri. Asalkan ada kesempatan bagi anak untuk menunjukkan perilaku mandirinya,” ujarnya. Hanya saja, akan semakin sulit manakala usia anak makin bertambah karena sebelumnya anak selalu bergantung pada orangtua dan pengasuhnya. Anak akan menuntut untuk terus dilayani, diperhatikan, hingga akhirnya sulit diubah.

Seberapa pun sulitnya, anak tetap bisa dilatih mandiri. Yang penting, orangtua konsisten bahwa ada hal-hal yang bisa dilakukan anak, khususnya kemampuan adaptif.

Dengan dilatih mandiri, anak akan lebih percaya diri, bertanggung jawab, dan cerdas. Anak seperti ini yang Anda inginkan, bukan? @Diana Yunita Sari

Ulama Islam Peringatankan Maraknya Acara TV Yang Berbau Mistik dan Sihir

•15 Juni 2007 • 1 Komentar

Para peserta Seminar Internasional persatuan ulama Islam dunia di Mekkah mengkhawatirkan maraknya acara-acara mistik dan sihir di kanal-kanal negara Islam via parabola

Iqna merilis dari kantor berita Kuwait, bahwa para tokoh dan pemikir Islam dunia yang mengikuti seminar di Mekkah mengeluarkan sebuah resolusi untuk menghentikan beberapa acara TV negara-negara Islam yang disiarkan melalui parabola seperti Arabsat dan Nilsat yang berhubungan dengan sihir atau tontonan berbau mistik, karena Islam menentang hal itu.

Para peserta menekankan, betapa acara-acara tersebut sangat memberi pengaruh kepada para pemirsa dan akan merusak akidah mereka. karenanya kepada Imam dan khatib Jumat diharapkan untuk memberi pencerahan kepada para jamaahnya agar tetap menjaga akidahnya dari berbagai keyakinan yang merusaknya serta waspada akan efek buruk dari tayangan-tayangan tersebut.

Pada resolusi itu juga disebutkan, agar para mentri yang membawahi penyiaran dan media eletronik di negara-negara Islam anggota OKI mencabut izin penyiaran para pengusaha TV yang masih nakal dan tidak menghentikan acara-acara yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam tersebut.

Kutuk Pemboman Mesjid di Irak, RI Minta Penerapan “Soft Power”

•14 Juni 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Perserikatan Bangsa-Bangsa, baik Sekretaris Jenderal Ban Ki-Moon maupun Dewan Keamanan beranggotakan 15 negara, termasuk Indonesia, pada Rabu mengutuk aksi pemboman terhadap tempat keramat Masjid Emas di kota Samarra, Irak, Rabu, yang disebut PBB sebagai aksi provokasi untuk memecah belah kesatuan Irak.

Sementara itu, Indonesia dalam sidang Dewan Keamanan PBB mengimbau diterapkannya `soft power` (pendekatan lunak) dalam upaya menghentikan berbagai kekerasan yang terjadi di Irak.

“Sekretaris Jenderal (Ban Ki-moon) menyatakan sangat terkejut atas terjadinya serangan yang menghancurkan terhadap mesjid tempat keramat Imam Ali al-Hadi dan Imam Hassan al-Askary di Samarra, yang juga mengalami serangan yang sama pada tahun 2006,” kata juru bicara Sekjen PBB, Michele Montas, kepada para wartawan di Markas Besar PBB, New York.

Sekjen, ujar Montas, menyambut baik upaya-upaya yang dilakukan para pemimpin politik dan agama di Irak untuk menenangkan situasi dan memajukan penghormatan terhadap hak asasi manusia serta perlindungan terhadap tempat-tempat suci agama.

“PBB akan terus melakukan apapun yang memungkinkan untuk membantu rakyat Irak memajukan dialog di antara masyarakat dan rekonsiliasi nasional,” kata Montas mengutip Ban.

Masjid Emas di Samarra adalah salah satu dari empat besar masjid suci Syiah di Irak.

Masjid Emas merupakan makam Imam Ali Hadi yang wafat pada tahun 868 dan puteranya, imam ke-11 Hassan al-Askary, yang tutup usia tahun 874.

Imam Ali Hadi dan Hassan al-Askary adalah dua di antara 12 imam utama Syiah.

Duta Besar Belgia untuk PBB, Johan Verbeke, yang negaranya menjadi Presiden DK-PBB untuk bulan Juni, mengatakan semua anggota Dewan Keamanan mengutuk serangan tersebut dan meminta semua pihak di Irak untuk menahan diri dan tidak terpengaruh oleh aksi-aksi provokatif.

Dewan Keamanan menekankan imbauan agar masyarakat internasional –terutama negara-negara di kawasan Timur Tengah– untuk membantu Irak dalam mencapai perdamaian, stabilitas dan kesejahteraan.

“Mereka (para anggota DK-PBB, red) menyatakan dukungan kuat terhadap kemerdekaan, kedaulatan, kesatuan dan integritas wilayah Irak,” kata Verbeke kepada wartawan.

Indonesia prihatin
Sementara itu, Deputi Wakil Tetap RI untuk PBB Duta Besar Hasan Kleib, dalam sidang Dewan Keamanan, Rabu di Markas Besar PBB, yang membahas situasi di Irak, menyatakan prihatin atas kekerasan politik dan kelompok aliran serta kejahatan yang terus menerus terjadi Irak.

Kekejaman yang terjadi di Irak, kata Hasan, tidak dapat sepenuhnya ditangani dengan pendekatan keamanan karena aksi-aksi tersebut berakar pada masalah kompleks yang terus menjerat Irak.

“Dalam pandangan kami, pendekatan ’soft power’ yang memajukan semangat melibatkan semua pihak serta penghormatan terhadap hak asasi manusia dan kebebasan fundamental harus terus diupayakan,” ujarnya.

Dalam kaitan tersebut, Indonesia mendukung upaya Pemerintah Irak melibatkan para pemimpin dari seluruh kepentingan politik dan agama untuk membangun kepercayaan melalui dialog dan rekonsiliasi nasional.

Dalam sidang Dewan Keamanan yang dihadiri oleh 15 anggota Dewan Keamanan dan peserta tamu, yaitu Menteri Luar Negeri Irak, Hoshyar Zebari, Hasan juga menyampaikan bahwa sebagai komitmen mendukung kesatuan Irak, Indonesia pada 3-4 April 2007 telah menyelenggarakan Konferensi Internasional Para Pemimpin Islam bagi Rekonsiliasi di Irak.

“Konferensi ini mengesahkan deklarasi yang ditujukan untuk menciptakan rekonsiliasi menyeluruh berdasarkan nilai-nilai perdamaian, keadilan dan persamaan, kebebasan, toleransi, keseimbangan, serta musyawarah,” paparnya.

Dubes Hasan menyatakan menyambut baik niat Sekretaris Jenderal PBB untuk meningkatkan peranan dan memperluas keberadaan PBB di Irak.

Menurutnya, ada tiga jalan yang dapat dilakukan PBB untuk meningkatkan peranannya di Irak, yaitu menempatkan lebih banyak lembaga PBB secara fleksibel di Irak, memperkuat lembaga di Markas Besar PBB, serta pemberian dukungan lebih kuat dari PBB untuk Irak dalam berbagai proses internasional. (*) ANTARA