Kepakkan Sayap Nuranimu!

Oleh: Qamaruddin SF

Kawan, yang berbahaya itu tidaklah jauh dari Anda,
tetapi di dalam batas-batas wujud Anda sendiri.
Namanya adalah hawa nafsu, jiwa yang selalu memerintahkan kejahatan.
Ibnu Arabi

Seorang lelaki pada suatu hari menemukan sebuah telur burung rajawali dan dia meletakkan telur itu bersama dengan telur-telur ayam di sarang seekor induk ayam peliharaan yang sedang mengeram. Telur itu menetas bersama telur ayam yang lain , dan anak burung itu tumbuh bersama anak-anak ayam diasuh oleh induk ayam itu.

Selama hidupnya, burung rajawali itu bertingkah laku sama dengan ayam peliharaan. Dia mengais tanah untuk mencari cacing dan serangga. Dia berkotek dan berkokok. Dia akan sesekali mengepak- ngepakkan sayapnya dan terbang beberapa meter di udara.

Tahun berlalu, dan burung rajawali itu kian tua. Suatu hari ia melihat burung yang sangat gagah terbang di angkasa yang tak berawan. Burung itu melayang dengan anggun dan berwibawa dalam embusan angin yang kuat, dia hanya membentangkan sayapnya dan jarang sekali menggerakkan sayapnya itu.

Rajawali tua itu terpesona memandang ke atas. “Siapakah itu,” tanyanya. “Itu adalah burung rajawali, raja dari segala burung,” kata ayam di dekatnya. “Dia penghuni langit, dan kita penghuni bumi, kita adalah ayam.” Demikianlah rajawali itu hidup terus dan mati sebagai seekor ayam, karena begitulah anggapannya tentang dirinya.

****

Pembaca, Tuhan telah meniupkan ruh-Nya pada setiap diri manusia. [1] Ruh itulah insaniyyat al- insân , esensi manusia. Para filsuf muslim kerap menyebutnya “sang rajawali” kesadaran ruhani. Karena berasal dari Tuhan , ia senantiasa ingin terbang mendekati Tuhan yang Mahakasih dan Mahasuci. Tapi, persepsi, sikap, perilaku, dan pengalaman kita malah mencerminkan “ayam piaran ”.

Kita tidak usah sewot dibilang demikian. Quran juga tegas-tegas menyebut orang yang tak menggunakan mata, telinga, dan akalnya untuk mencerap tanda-tanda kebenaran dan kebesaran Allah laksana binatang piaraan, bahkan lebih sesat lagi (QS al-A‘râf: 179).

Kepak sayap “sang rajawali” dalam diri pun amat lemah, karena sudah sekian lama kita disuapi kesenangan material di bumi ini. Bahkan, dalam masyarakat modern, kita terkurung dalam sangkar yang sempit dan pengap. Kita hidup dari sangkar ke sangkar, dari kotak ke kotak, dari penjara ke penjara. Sangkar itu bisa jadi hasrat sesaat, bisa jadi sebuah ideologi, partai, jabatan, popularitas, dan kekayaan. Semua telah menghalangi kita memperoleh kebebasan dalam alam spiritual dan intelektual yang merupakan panggung raksasa bagi aktualisasi kemanusiaan kita.

Lama-lama sayap nurani kita pun terpatahkan oleh sengkarut pertengkaran antarkelas , antarpartai , antarbangsa , yang ujung-ujungnya menghancurkan ekologi dan martabat manusia sendiri. Dalam bahasa kerennya , kita kerap menyerembabkan diri sendiri dari martabat kemanusiaan ( a h sani taqwîm , humanity ) ke tingkat kebinatangan ( a sfala sâfilîn , animality ).

Pembaca, simaklah saat iblis ditanya oleh Allah mengapa ia tidak mau bersujud kepada Adam, ia menjawab, “Aku lebih baik dari Adam. Kauciptakan aku dari api , sedangkan Kauciptakan dia dari tanah .” (QS 7:12). Kenapa iblis begitu sombong dan tak menghargai Adam? Karena ia hanya melihat fisiknya—dimensi tanahnya. Seperti ayam melihat anak burung rajawali yang dipiara bersamanya, iblis mengira Adam sekadar “makhluk bumi”. Ia gagal memandang dimensi ruhnya . Adam disadari sebagai “makhluk langit” hanya oleh para malaikat, sehingga mereka mau bersujud kepadanya. Tak usah heran, ruh dan malaikat sama-sama bersifat cahaya. Bagaimana dengan Anda?

Saya yakin, pembaca lebih cerdas daripada iblis, apalagi ayam piaraan itu! Masalahnya, kendati kita tahu, kita acap tak acuh pada ruh kita. Konon, dalam diri kita ada “pertempuran” abadi antara “gravitasi langit” dan “gravitasi bumi”. Antara dimensi malaikati dan dimensi setani . Antara humanity dan animality kita . Antara ruh dan nafsu. Bila ruh menang dan mengendalikan diri kita, kita akan beriman, memeluk kebenaran, dan berbuat kebajikan. Namun, bila nafsu yang mengendalikan, kita akan cenderung pada keburukan, mengingkari kebenaran, dan suka melakukan kemungkaran.

Nafsu inilah—menurut sebagian ulama seperti al – Ghazali , Ibnu Arabi , Ibnu Sina —sisi kebinatangan manusia. Ilmuan Ikhwanus Shafa menyatakan bahwa binatang mempunyai dua ciri, yang keduanya sama dengan karakter hawa nafsu manusia: selalu mencari keuntungan dan mempertahankan diri; menarik apa pun yang menyenangkannya dan lari dari hal-hal yang membahayakan dirinya. Pekerjaan hewan, simpul al- Ghazali , hanyalah makan, minum, tidur, berhubungan seksual, dan berkelahi. Demikian pulalah kecenderungan nafsu—jiwa hewani kita.

Pembaca, jujur saja, nafsulah yang kerap menang dalam pergulatan hidup kita. Apa buktinya? Persis seperti Quran gambarkan tentang ciri-ciri nafsu , kita cenderung berbuat dosa. Nafsu tidak ragu-ragu melakukan dosa besar dan gemar melanggar larangan Allah (QS al- Maidah : 30), enggan mendengar nasihat (QS al- Maidah : 27–29), suka berdusta (QS al-Nisâ’: 20/112, al-Ahzâb: 58), suka bermusuhan (QS al- Mujadalah : 8), suka melampaui batas dan enggan berbuat baik (QS al-Qalam: 12), suka berkhianat (QS al-Nisâ’: 107), buruk sangka (QS al- Hujurât : 12), sombong (QS al-Furqân: 21), kikir (QS al-Nisâ’: 128), mesum (QS Yûsuf: 23), dan culas (QS Yûsuf: 18).

Jadi, nafsu adalah potensi dalam diri kita yang menjadi pangkal dari segala sifat tercela. [2] Quran menegaskan, “ Karena sesungguhnya nafs itu selalu menyuruh kepada kejahatan ” (QS Yûsuf: 53). Karena itulah Rasulullah saw. mengajarkan kita agar berdoa, “Kami berlindung kepada Allah dari jahatnya nafs kami ( min syurûri anfusinâ ).”

Nafsu tidak akan puas karena ia diperturutkan . Malah, menjerumuskan. “ Hawa nafsu ibaratkan nyala api . Jika sampai pada titik dipadamkan, ia akan merambah wilayah lainnya. Ia ingin membakar objek amarahnya, “tutur Imam al-Qusyairi. Sebaliknya, jika berhasil dikendalikan, ia akan membantu kita. Pembaca, di sinilah kita mengerti betapa kita membutuhkan puasa sebagai metode agar kita tak dikendalikan nafsu, melainkan mengendalikannya.

Mengendalikan nafsu sebetulnya berarti menutup pintu dosa sekaligus menutup pintu masuk setan. Sebab, hanya melalui hawa nafsulah setan yang terkutuk bisa menggoda manusia. Setan tercipta dari api . Sebagaimana api , ia baru muncul bila ada pemantiknya . Bila ada bahan bakarnya . Itulah hawa nafsu dan perbuatan buruk. Setan tak punya kekuatan terhadap orang yang berjiwa bersih dan berhati tulus (QS al- H ijr: 39). Tuhan berfirman, “Sesungguhnya tiada kekuasaan bagimu terhadap hamba-hamba-Ku, kecuali orang-orang yang menyeleweng dan mengikutimu” (QS al- H ijr: 42). Di sini pulalah kita jadi mengerti sabda Nabi, “ Di bulan Ramadhan , setan-setan dibelenggu dan pintu-pintu neraka di tutup .”

Menarik sekali, Syekh Tosun Bayrak menamsilkan setan dan hawa nafsu laksana seorang pencuri yang menyelinap masuk ke dalam rumah Anda di malam hari, untuk mencuri apa pun yang berharga dan berguna. Anda tidak dapat melawan pencuri ini secara langsung, karena ia akan membalikkan kekuatan apa pun yang Anda arahkan kepadanya. Jika Anda memiliki sepucuk senjata, sang pencuri pun memiliki benda serupa. Jika Anda memiliki sebilah pisau, ia juga memiliki sebilah pisau. Bertempur melawan sang pencuri sama halnya dengan mengundang bahaya. Jalan keluar yang termudah adalah dengan menghidupkan lampu. Sang pencuri yang berhati pengecut pasti lari meninggalkan rumah tersebut.

“Menghidupkan lampu” berarti membangkitkan kesadaran. Menyalakan cahaya dalam diri. Mengoptimalkan potensi-potensi positif kita. Itulah esensi ibadah puasa. Semarak ibadah di bulan Ramadhan dimaksudkan untuk menerobos kegelapan dengan menyalakan cahaya ruhani kita. Dengan puasa pula kita berusaha mengepakkan sayap “sang rajawali ruhani kita” di angkasa yang tak berawan. Terbang dari dari kungkungan hawa nafsu dan dominasi materi menuju langit spiritualitas, mendekati Tuhan, Sumber energi spiritual dan kearifan. Marhaban Ramadhan ! []

Sumber: Serambi Online
—————————————————-
[1] QS Shâd:71–72
[2] Al-jâmi‘ liquwwah al-ghadhab wa al-syahwah fi al-insân wa al-ashl al-jamî‘ lishshifât al-madzmûmah min al-insân . Lihat Imam al- Ghazali , Ihyâ ‘ Ulûm al- Dîn , juz 2 h. 134

~ oleh admin pada 11 Oktober 2006.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: