Mempertemukan Barat dan Timur

Judul Buku : My Name Is Red
Penulis : Orhan Pamuk
Penerbit : Serambi Ilmu Semesta

BARAT dan Timur telah menjadi kutub yang sama-sama menyimpan kekuatan dan misteri yang tak bisa disatukan.”East is east and west is west and never the twain shall meet (timur adalah timur dan barat adalah barat; keduanya tidak akan pernah bertemu)”, begitulah ungkapan ekstrem sastrawan terkemuka Inggris Rudyard Kipling.

Di tengah kekeruhan kondisi semacam itu, ada bintang yang baru telah terbit di timur seperti dinyatakan The New York Times, yaitu Ferit Orhan Pamuk, penulis kelahiran Istanbul,Turki, 7 Juni 1952. Orhan Pamuk yang baru-baru ini ditulis sebagai the people who shape our world(orang yang membangun dunia kita) oleh media tersebut, hadir dengan sosok yang kontroversial.

Novel Benim Adım Kırmızı (Namaku Merah) yang telah diterjemahkan dalam 24 bahasa, termasuk bahasa Indonesia,membuktikan dirinya sebagai sosok yang berani melawan arus. Pernyataan Pamuk pada Oktober 2005 bahwa ”tiga puluh ribu orang Kurdi dan sejuta orang Armenia dibunuh di negeri ini dan tak seorang pun kecuali saya yang berani berbicara tentang hal ini,” mengundang kecaman keras dari pemerintah Turki karena dianggap sebagai bentuk pelecehan terhadap orang Turki, Republik atau Dewan Nasional Agung Turki.

Dalam bulan itu juga, delapan sastrawan terkemuka dunia––Josi Saramago (Portugal),Gabriel Garcia Marquez (Kolombia), Gunter Grass (Jerman),Umberto Eco (Italia), Carlos Fuentes (Meksiko),Juan Goytisolo (Spanyol),John Updike (Amerika Serikat),dan Mario Vargas Llosa (Peru)––sepakat menerbitkan pernyataan bersama dan mengecam tuduhan atas Pamuk sebagai pelanggaran hak asasi manusia. Keberanian itu membuat Pamuk diperhitungkan di kancah dunia internasional.

Bahkan,saat ini, demi mempermulus upaya Turki diterima menjadi anggota Uni Eropa,Pamuk ditunjuk sebagai duta Turki untuk melobi Uni Eropa.Tidak heran jika pada Oktober 2006,Pamuk mendapat anugerah sebagai pemenang hadiah Nobel Sastra yang diumumkan oleh Komite Penghargaan Nobel Norwegia (12/10/ 2006), menyusul Naguib Mahfouz, yang mendapat hadiah Nobel Sastra 1988, dan pada 30 Agustus 2006 lalu mengembuskan napas terakhirnya.

Novel My Name is Red ini meramu teka-teki misteri, roman, dan filosofis yang berlatar di Istanbul pada abad ke-16. Dengan yakin, Pamuk mulai bereksperimen dengan teknik-teknik pascamodern dalam novelnovelnya, suatu perubahan dari naturalisme sempit dalam karya- karya sebelumnya. Pamuk berbeda dengan peraih Nobel Sastra sebelumnya, termasuk dengan Naguib Mahfouz, sebagai penulis Arab realis.

Meskipun keduanya sama-sama penganut realisme sastra yang merekam secara tajam dinamika kehidupanArab-Islam,pada diri Pamuk terdapat keistimewaan dalam melakoni teknik cerita yang unik dengan pelbagai karakter yang tidak tampak dan selalu bergantian menggodok— tidak melulu emosi dan imaji, tetapi juga kejelian membaca— pembaca. Karya-karya Pamuk kerap menggelisahkan, dengan plot yang rumit dan memikat, serta penokohan yang kuat.

Watak tokoh dalam novel Pamuk ini seakan-akan tak ada, selalu dalam proses, dan narasi bergerak ke tujuan yang tak begitu jelas, dan seperti dikatakan Goenawan Mohamad, tak harus seratus persen dipahami. Mencermati tokoh dan karakter yang dikembangkan Pamuk seperti membayangkan suatu konstruksi yang hilang kemudian berjalinan datang dan menjelma sosok yang misterius.Seperti itulah misteri yang terus digodok-godok Pamuk meramu novel ini.

Misteri pembunuhan,yang menjadi main point novel ini, terhadap Elok Effendi dan Enishte Effendi, sebagai miniaturis senior dalam sebuah bengkel lukis,dihadirkan dengan pertalian karakter dan tokoh yang bergantian. Sosok tokoh Hitam yang paling banyak muncul dalam jalinan cerita dan selalu dituduh sebagai pelaku pembunuhan, datang dan menghilang sebagai sosok yang benar-benar hitam.

Sehingga misteri tentang pembunuhan pun menjadi runyam, hitam dan tetap bertahan menjadi misteri. Meskipun ada sebuah bab yang sedikit menguak dan membuka kran tentang misteri pembunuhan itu (hal 669-706), munculnya tokoh aku dalam bab 58: Aku Akan Disebut Seorang Pembunuh, lagi-lagi membuat gusar pembaca.Karena si ”aku” yang dituduh seorang pembunuh dan mengaku membunuh Elok Effendi itu kembali menjadi bayang-bayang misteri ketika si ”aku” tak bisa diidentifikasi.

Dalam hal inilah, novel ini menjadi sangat kaya, dan pembaca ditantang mengembarai karakter demi karakter tokoh yang dihadirkan secara misterius oleh Pamuk. Sekat-sekat yang telah mendikotomi barat dan timur pun lebur di tangan Pamuk.Semua menjadi satu karena Barat dan Timur adalah kepunyaan Allah, kata-nya.(hal.699)
[sumber: Serambi Online]

~ oleh admin pada 12 Januari 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: