Membersihkan Usus itu Perlu!

Kalau Anda terbiasa menjejalkan bermacam-macam makanan “sampah” dan aneka zat kimia ke perut, usus bisa berkerak. Usus sekotor itu akan menghambat penyerapan zat gizi, sehingga mudah mengundang penyakit. Cuci usus atau urus-urus cara baru bisa menjadi alternatif untuk membersihkan alat cerna kita.

Seorang wanita berusia 44 tahun, sebut saja Elisabeth, merasa kelebihan berat badan. Tinggi tubuhnya tak lebih dari 153 cm, tetapi bobotnya mencapai 64 kg. Tak mengherankan itu terjadi karena nafsu makan ibu tiga anak ini sulit dikendalikan. Meski merasa tidak percaya diri dengan kondisi itu, bila melihat bakso, pangsit, dan jajanan lain, ia tetap saja tergiur.

Ketika mengetahui tentang teknik cuci usus yang ditawarkan sebuah klinik, ia langsung tertarik. Dokter mengatakan, colon hydrotherapy ini bisa membantu mengatasi masalahnya. Liz disarankan melakukan terapi itu dua kali seminggu, sebanyak enam kali.

Usai pembersihan pertama, perutnya sudah terasa nyaman. Anehnya lagi, nafsu makannya tidak menggebu-gebu seperti dulu. Setelah dua kali pembersihan, berat badannya mulai turun sebanyak 4 kilogram.

Selain terapi cuci usus dengan air ini, ia juga mengatur pola makan. Konsumsi sayur dan buah diperbanyak, sementara lemak dihindari. Hasilnya, badan Liz kembali langsing dan penampilannya pun jadi tampak lebih muda, seperti saat remaja. Wah, bahagianya!

Istilah colon hydrotherapy makin akrab di telinga kita akhir-akhir ini. Penggunaan teknik cuci usus ini tampaknya tambah marak. Di zaman penjajahan Belanda, menurut Prof. DR. Dr. Walujo Soerjodibroto, Sp.GK (K), MSc., para dokter dari negeri kincir angin sudah menjalankan terapi membersihkan usus rutin setiap tahunnya.

Mereka memakai broklak atau garam inggris untuk menguras kotoran dan racun yang mengendap di usus. Kaum awam pun akhirnya ikut memanfaatkannya.

Selain broklak, kini makin banyak bahan yang bisa dipakai untuk obat urus-urus (cuci usus). Kalau Anda berselancar di internet untuk mencari bahan pencuci usus, akan menjumpai beragam tawaran produk alami.

Kebanyakan memang sudah dikemas dalam bentuk pil atau kapsul sebagai suplemen. Isinya tanaman yang bersifat laksatif (pencahar), misalnya lendir daun lidah buaya dan ekstrak biji pohon jarak.

Bahan lain yang telah dimanfaatkan adalah daun senna (Alexandrian senna atau Khartoum senna) atau Cassia angustifolia Vahl, yang dikenal sebagai Tinnevelly senna. Daun ini mengandung tak kurang dari 2,5 persen hidroksiantrasena glikosida, dan bahan aktif utamanya antrakuinon glikosida. Bahan ini dijadikan obat pencuci perut karena zat aktifnya berefek mengurangi penyerapan cairan dan garam, menambah aktivitas peristaltik usus kecil dan usus besar, serta melunakkan tinja.

Bahan lain seperti ekstrak rizom dan akar dari Rheum officinale Baillon atau dari Rheum palmatum Linné (famili Polygonaceae), mengandung antrakuinon glikosida (3 – 7,5%) yang juga digunakan sebagai obat pencuci perut dan memiliki efek utama seperti senna. Hasilnya, tinja lunak dan kerja usus pun jauh lebih enteng.

Menjamurnya program cuci usus dengan asupan ramuan herbal atau memasukkan cairan lewat anus, menurut Prof. Walujo, merupakan bentuk kesadaran bahwa perut orang sekarang tak lagi bersih dan sehat.

“Dari zaman batu sampai sekarang, menurut penelitian, struktur dan fungsi tubuh manusia tidak berubah kecuali dalam hal ketegapan atau berkurangnya bulu-bulu tubuh,” ungkap spesialis gizi dari Departemen Gizi Universitas Indonesia ini.

Itu artinya, organ tubuh manusia sebetulnya tidak bermasalah. Yang menyebabkan masalah adalah bahan-bahan yang dimasukkan ke dalam sistem pencernaan. Pola makan orang di zaman modern jelas jauh berbeda dengan nenek moyang kita di zaman batu.

Usus manusia didesain khusus untuk makanan jenis tumbuhan, bukan daging. Pada zaman berburu daging memang merupakan salah satu menu, tetapi tidak menjadi makanan pokok. “Itu makanan mewah karena butuh seharian untuk menangkap seekor hewan. Cara mendapatkannya juga tidak mudah,” ujar Prof. Walujo.

Lagipula usus manusia cukup panjang. Kalau digelar, bisa seluas lapangan tenis. Berbeda dengan desain usus makhluk pemakan hewan yang pendek, sehingga bisa lebih cepat mencerna daging.

Selain daging yang mungkin berlebihan porsinya, tambahan asupan yang dicerna usus manusia pada zaman ini beragam. “Boraks dan formalin juga ikut masuk ke usus kita,” katanya.

Kelemahan menu modern adalah kurangnya bahan berserat, kurang hidrat arang alami, berlebihnya hidrat arang sederhana dan olahan, dan yang jelas berlebihan lemak. Usus kita, menurut Prof. Walujo, sudah teracuni banyak zat. Itulah sebabnya cuci usus menjadi populer.

Prof. Walujo yang pernah mencoba colon hydrotherapy merekomendasi cara-cara cuci usus yang saat ini diberlakukan. Masyarakat perlu disadarkan bahwa ususnya penuh kerak yang mengganggu penyerapan zat gizi. Ia juga mengingatkan bahwa cuci usus punya batasan pemakaian.

Pembersihan usus dengan bahan bersifat laksan seperti garam inggris atau tanaman tidak boleh dilakukan terus-menerus. “Sekalipun berasal dari bahan alami, tidak boleh digunakan berulang kali dalam jangka waktu pendek,” kata dokter yang juga berpraktik di RS Tebet, Jakarta Selatan ini.

Bahan-bahan pencuci perut ini sebaiknya digunakan dalam jangka waktu enam bulan sekali. Teknik enema yang menggelontor usus dengan air lewat anus (colon hydrotherapy), juga harus mengikuti prosedur tertentu.

Penggunaan terus-menerus justru bisa merusak usus. “Anak rambut pada usus yang disebut fili bisa hilang dan ini akan mengganggu kemampuan penyerapan usus terhadap zat-zat gizi,” ungkapnya.

Penampang usus semakin kecil dan makanan yang masuk bisa jadi langsung keluar tanpa sempat diserap. Cara alami dengan mengasup sayur dan buah setiap hari sangat dianjurkan. Teknik cuci usus ini sebaiknya terus dilakukan. Bila perlu, hindari zat yang menimbulkan racun seperti pewarna, pengawet, penguat rasa, dan lemak hewani.

Yang terpenting, tambah Prof. Walujo, cuci usus hanya berlaku bagi mereka yang setiap hari mengasup makanan yang tidak aman bagi kesehatan. “Kalau pola makan dan gaya hidup sudah sehat, tidak perlu lagi cuci usus,” ujarnya. @ Abdi Susanto

~ oleh admin pada 15 Juni 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: