Antibiotik Bisa Jadi Bumerang untuk Anak

Setiap orangtua pastilah khawatir manakala si kecil rewel karena flu dan pilek, apalagi ditambah demam tinggi. Karenanya tak sedikit orangtua yang meminta diresepkan antibiotik yang dipercaya sebagai “obat sakti” karena mampu menghilangkan penyakit dengan cepat. Padahal pemakaian antibiotik yang tidak sesuai indikasi bisa menjadi bumerang.

Penggunaan antibiotik yang irasional tidak hanya mengganggu fungsi organ tubuh, apalagi sistem tubuh dan fungsi organ bayi dan anak-anak masih belum sempurna, tetapi juga akan membunuh kuman baik yang berguna bagi tubuh. Selain itu kuman-kuman yang belum terbunuh akan bermutasi dan berubah menjadi kuman yang resisten (kebal) terhadap antibiotik.

“Meski berukuran mikro, kuman adalah mahluk yang sangat pintar. Jika tubuh kita sudah sering terpapar antibiotik, lama-lama kuman akan mengenali dan menjadi kebal,” papar dr.Latre Buntaran, Sp.MK, spesialis mikrobiologi klinik dari RS Jantung Harapan Kita. Kuman-kuman yang resisten tadi biasa disebut sebagai superbugs.

Menurut Latre antibiotik sering diterjemahkan salah, yakni untuk membunuh semua yang hidup. Padahal penggunaan antibiotik hanya disarankan untuk infeksi yang disebabkan oleh bakteri. “Kalau penyebabnya virus ya diberi antivirus, kalau bakteri diberi antibiotik, kalau tidak ada bukti infeksi pemberian antibiotik justru akan menimbulkan alergi bahkan kematian,” kata dokter yang juga menjadi Wakil Ketua Pengendalian Infeksi (Indonesia Society of Infection Control) wilayah Jakarta ini.

Sebagian besar kasus penyakit infeksi pada anak penyebabnya adalah virus. Penyakit yang disebabkan oleh virus termasuk dalam penyakit yang sembuh sendiri dalam waktu 5-7 hari tergantung sistem imun tubuh. Infeksi yang disebabkan oleh virus antara lain diare, batuk, pilek, dan panas. Jika dokter tetap memberikan antibiotik dengan alasan untuk meningkatkan kekebalan tubuh, para orangtua harus bersikap kritis dengan bertanya kepada dokter apakah anaknya benar-benar butuh antibiotik.

“Dokter harus lebih jeli dalam mendiagnosis penyebab penyakit, apakah karena bakteri atau virus,” saran Latre. Menurut dia, infeksi yang disebabkan oleh virus biasanya demamnya mendadak naik dan mendadak turun, sedangkan infeksi akibat bakteri biasanya memiliki ciri panas yang tidak turun dalam jangka waktu beberapa hari. “Anak yang menderita batuk pilek disertai demam sebaiknya cukup diberi obat penurun panas, jika dua hari tidak turun baru dipertimbangkan untuk memberikan antibiotik,” tambahnya.

Sementara itu penyakit yang diakibatkan oleh infeksi bakteri di antaranya infeksi telinga, sinus berat, radang tenggorokan akibat infeksi streptokokus, infeksi saluran kemih, tifus, TBC, radang otak (meningitis), dan radang paru (pneumonia). Jika anak memang memerlukan antibiotik karena terkena infeksi bakteri, Latre menyarankan agar orangtua meminta dokter meresepkan antibiotik yang memiliki spektrum sempit, yakni yang hanya bekerja pada satu jenis bakteri yang dituju.

Lebih lanjut Latre menjelaskan bahwa pemberian antibiotik sebaiknya dievaluasi setiap tiga hari sekali. “Jika dalam 2-3 hari tidak ada perbaikan, sebaiknya jenis antibiotiknya diganti,” jelasnya. Menurutnya ada tiga faktor yang menyebabkan antibiotik tidak efektif, yakni karena obatnya salah, kumannya sudah resisten, atau pasien yang tidak patuh meminum antibiotik sesuai dosis anjuran.

Untuk anak-anak, dosis antibiotik yang tepat tergantung pada berat badan dan pertimbangan apakah fungsi organ tubuhnya sudah berkembang sempurna. “Jangan takut memberikan antibiotik pada anak, asalkan dosisnya sesuai dan indikasi penyakitnya jelas,” kata Latre.

Selain itu Latre juga mengingatkan para orangtua agar tidak membeli sendiri antibiotik yang dijual bebas tanpa pertimbangan dokter. Beberapa keadaan yang perlu dicermati jika anak mengonsumsi antibiotik adalah gangguan saluran cerna, seperti diare, mual, muntah, hingga pembengkakan bibir atau mata dan gangguan napas. “Ada antibiotik jenis tertentu yang bisa merusak gigi dan menghambat pertumbuhan tulang pada anak,” demikian Latre. @ditulis kembali dari Kompas

~ oleh admin pada 6 September 2007.

Satu Tanggapan to “Antibiotik Bisa Jadi Bumerang untuk Anak”

  1. dr latre itu dokter yang ga bener
    mata duitan, banyak maunya, maunya ini itu, ga profesional
    anak gw skit ga sembuh2…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: