Masalah Kultur Memicu Kematian Ibu

Tingginya angka kematian ibu di Indonesia dipicu oleh terbatasnya akses terhadap pelayanan persalinan. Hal ini diperparah oleh lemahnya posisi perempuan di lingkungan masyarakat, khususnya di pedesaan, dalam pengambilan keputusan mengenai masalah kesehatan reproduksinya.

Saat ini angka kematian ibu di Indonesia masih tertinggi di Asia Tenggara. Hasil survei Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2002 menyebutkan, angka tersebut mencapai 307/100.000 kelahiran hidup. Diperkirakan 20.000 perempuan meninggal dunia setiap tahun karena komplikasi kehamilan, persalinan, dan nifas.

Menurut Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri Syarief, dalam diskusi ”A Promise of Healthy Pregnancy and Safe Childbirth for All”, Kamis (22/5) di Jakarta, persalinan jadi berisiko tinggi jika terlalu banyak anak yang dilahirkan dan terlalu dekat jaraknya satu sama lain. Atau apabila terjadi pada perempuan berusia terlalu muda atau terlalu tua. Selain itu, banyak ibu meninggal dunia karena terlambat dibawa ke tempat pelayanan persalinan.

Staf Ahli Menteri Kesehatan Rachmi Untoro menyatakan, lambatnya keputusan membawa ibu hamil ke pusat layanan kesehatan ini dilatarbelakangi rendahnya tingkat pendidikan dan dominasi budaya patriark atau ketidaksetaraan jender.

Di banyak daerah perempuan sulit memutuskan sendiri apa yang terbaik bagi dirinya dan bayi yang dikandung. Jadi, saat mengalami perdarahan atau komplikasi saat kehamilan, suami atau tetua adat yang memutuskan kapan dan di mana ia akan dirawat. ”Padahal, belum tentu suami ada di rumah,” ujarnya.

Juga banyak ibu hamil terlambat mencapai sarana kesehatan lantaran tempat tinggalnya jauh dari tempat pelayanan persalinan. Penyebab lain adalah banyak rumah sakit di daerah yang tidak memiliki pelayanan transfusi darah sehingga kesulitan mengatasi masalah perdarahan dan komplikasi persalinan.

Atur kehamilan
Untuk menekan angka kematian ibu, tutur Rachmi, perubahan sosial budaya perlu didorong melalui penyuluhan dan sosialisasi pendidikan kesehatan reproduksi, khususnya kesehatan ibu dan anak balita. Dengan program Desa Siaga, kesiapsiagaan menghadapi persalinan tidak hanya tanggung jawab keluarga, tetapi juga semua warga desa setempat.

Sugiri mengatakan, perlu dilakukan pengaturan kelahiran agar tidak terjadi kehamilan tidak diinginkan. ”Dengan menjarangkan kehamilan, risiko kematian ibu saat persalinan jauh berkurang. Makin sering melahirkan, risiko seseorang mengalami komplikasi yang membahayakan jiwa juga makin tinggi,” ujarnya.

”Perencanaan keluarga melalui pengaturan kehamilan yang aman, sehat, dan diinginkan merupakan salah satu faktor penting dalam menurunkan angka kematian maternal. Hal ini bisa tercapai melalui peningkatan akses terhadap pelayanan kontrasepsi berkualitas,” kata Sugiri.  ( sumber Kompas 23 mei 2008 )

~ oleh admin pada 23 Mei 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: