Masalah Kultur Memicu Kematian Ibu

•23 Mei 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Tingginya angka kematian ibu di Indonesia dipicu oleh terbatasnya akses terhadap pelayanan persalinan. Hal ini diperparah oleh lemahnya posisi perempuan di lingkungan masyarakat, khususnya di pedesaan, dalam pengambilan keputusan mengenai masalah kesehatan reproduksinya.

Saat ini angka kematian ibu di Indonesia masih tertinggi di Asia Tenggara. Hasil survei Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2002 menyebutkan, angka tersebut mencapai 307/100.000 kelahiran hidup. Diperkirakan 20.000 perempuan meninggal dunia setiap tahun karena komplikasi kehamilan, persalinan, dan nifas.

Menurut Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri Syarief, dalam diskusi ”A Promise of Healthy Pregnancy and Safe Childbirth for All”, Kamis (22/5) di Jakarta, persalinan jadi berisiko tinggi jika terlalu banyak anak yang dilahirkan dan terlalu dekat jaraknya satu sama lain. Atau apabila terjadi pada perempuan berusia terlalu muda atau terlalu tua. Selain itu, banyak ibu meninggal dunia karena terlambat dibawa ke tempat pelayanan persalinan.

Staf Ahli Menteri Kesehatan Rachmi Untoro menyatakan, lambatnya keputusan membawa ibu hamil ke pusat layanan kesehatan ini dilatarbelakangi rendahnya tingkat pendidikan dan dominasi budaya patriark atau ketidaksetaraan jender.

Di banyak daerah perempuan sulit memutuskan sendiri apa yang terbaik bagi dirinya dan bayi yang dikandung. Jadi, saat mengalami perdarahan atau komplikasi saat kehamilan, suami atau tetua adat yang memutuskan kapan dan di mana ia akan dirawat. ”Padahal, belum tentu suami ada di rumah,” ujarnya.

Juga banyak ibu hamil terlambat mencapai sarana kesehatan lantaran tempat tinggalnya jauh dari tempat pelayanan persalinan. Penyebab lain adalah banyak rumah sakit di daerah yang tidak memiliki pelayanan transfusi darah sehingga kesulitan mengatasi masalah perdarahan dan komplikasi persalinan.

Atur kehamilan
Untuk menekan angka kematian ibu, tutur Rachmi, perubahan sosial budaya perlu didorong melalui penyuluhan dan sosialisasi pendidikan kesehatan reproduksi, khususnya kesehatan ibu dan anak balita. Dengan program Desa Siaga, kesiapsiagaan menghadapi persalinan tidak hanya tanggung jawab keluarga, tetapi juga semua warga desa setempat.

Sugiri mengatakan, perlu dilakukan pengaturan kelahiran agar tidak terjadi kehamilan tidak diinginkan. ”Dengan menjarangkan kehamilan, risiko kematian ibu saat persalinan jauh berkurang. Makin sering melahirkan, risiko seseorang mengalami komplikasi yang membahayakan jiwa juga makin tinggi,” ujarnya.

”Perencanaan keluarga melalui pengaturan kehamilan yang aman, sehat, dan diinginkan merupakan salah satu faktor penting dalam menurunkan angka kematian maternal. Hal ini bisa tercapai melalui peningkatan akses terhadap pelayanan kontrasepsi berkualitas,” kata Sugiri.  ( sumber Kompas 23 mei 2008 )

Kambing Berkepala Dua Lahir di Yaman

•6 Nopember 2007 • 3 Komentar

Seekor kambing betina milik warga Yaman yang tinggal di ibu kota Sana`a melahirkan seekor anak berkepala dua, lapor harian Al-Thawra, Senin, sambil memuat gambar anak kambing tersebut.

Saat menyusu di induknya, anak kambing yang kondisi kesehatannya stabil itu melakukannya secara bergantian.

“Anak kambing ini lahir sejak seminggu yang lalu secara alami,” kata Yahya Mutahhar Al-Sobahi, sang pemilik.

Al-Sobahi menuturkan bahwa beberapa orang menawar anak kambingnya seharga 100 ribu riyal Yaman (sekitar Rp4,5 juta, namun ditolaknya karena ingin disimpan untuk bahan tadabbur (menghayati) ciptaan Allah Yang Maha Kuasa.

“Bahkan, saya merencanakan untuk menghadiahkan ke kebun binatang agar bisa disaksikan umum sehingga mereka bisa juga menghayati kekuasaan Allah yang menciptakan makhluk sesuai kehendak-Nya,” kata Al-Sobahi menambahan. @Antara-New

Antibiotik Bisa Jadi Bumerang untuk Anak

•6 September 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Setiap orangtua pastilah khawatir manakala si kecil rewel karena flu dan pilek, apalagi ditambah demam tinggi. Karenanya tak sedikit orangtua yang meminta diresepkan antibiotik yang dipercaya sebagai “obat sakti” karena mampu menghilangkan penyakit dengan cepat. Padahal pemakaian antibiotik yang tidak sesuai indikasi bisa menjadi bumerang.

Penggunaan antibiotik yang irasional tidak hanya mengganggu fungsi organ tubuh, apalagi sistem tubuh dan fungsi organ bayi dan anak-anak masih belum sempurna, tetapi juga akan membunuh kuman baik yang berguna bagi tubuh. Selain itu kuman-kuman yang belum terbunuh akan bermutasi dan berubah menjadi kuman yang resisten (kebal) terhadap antibiotik.

“Meski berukuran mikro, kuman adalah mahluk yang sangat pintar. Jika tubuh kita sudah sering terpapar antibiotik, lama-lama kuman akan mengenali dan menjadi kebal,” papar dr.Latre Buntaran, Sp.MK, spesialis mikrobiologi klinik dari RS Jantung Harapan Kita. Kuman-kuman yang resisten tadi biasa disebut sebagai superbugs.

Menurut Latre antibiotik sering diterjemahkan salah, yakni untuk membunuh semua yang hidup. Padahal penggunaan antibiotik hanya disarankan untuk infeksi yang disebabkan oleh bakteri. “Kalau penyebabnya virus ya diberi antivirus, kalau bakteri diberi antibiotik, kalau tidak ada bukti infeksi pemberian antibiotik justru akan menimbulkan alergi bahkan kematian,” kata dokter yang juga menjadi Wakil Ketua Pengendalian Infeksi (Indonesia Society of Infection Control) wilayah Jakarta ini.

Sebagian besar kasus penyakit infeksi pada anak penyebabnya adalah virus. Penyakit yang disebabkan oleh virus termasuk dalam penyakit yang sembuh sendiri dalam waktu 5-7 hari tergantung sistem imun tubuh. Infeksi yang disebabkan oleh virus antara lain diare, batuk, pilek, dan panas. Jika dokter tetap memberikan antibiotik dengan alasan untuk meningkatkan kekebalan tubuh, para orangtua harus bersikap kritis dengan bertanya kepada dokter apakah anaknya benar-benar butuh antibiotik.

“Dokter harus lebih jeli dalam mendiagnosis penyebab penyakit, apakah karena bakteri atau virus,” saran Latre. Menurut dia, infeksi yang disebabkan oleh virus biasanya demamnya mendadak naik dan mendadak turun, sedangkan infeksi akibat bakteri biasanya memiliki ciri panas yang tidak turun dalam jangka waktu beberapa hari. “Anak yang menderita batuk pilek disertai demam sebaiknya cukup diberi obat penurun panas, jika dua hari tidak turun baru dipertimbangkan untuk memberikan antibiotik,” tambahnya.

Sementara itu penyakit yang diakibatkan oleh infeksi bakteri di antaranya infeksi telinga, sinus berat, radang tenggorokan akibat infeksi streptokokus, infeksi saluran kemih, tifus, TBC, radang otak (meningitis), dan radang paru (pneumonia). Jika anak memang memerlukan antibiotik karena terkena infeksi bakteri, Latre menyarankan agar orangtua meminta dokter meresepkan antibiotik yang memiliki spektrum sempit, yakni yang hanya bekerja pada satu jenis bakteri yang dituju.

Lebih lanjut Latre menjelaskan bahwa pemberian antibiotik sebaiknya dievaluasi setiap tiga hari sekali. “Jika dalam 2-3 hari tidak ada perbaikan, sebaiknya jenis antibiotiknya diganti,” jelasnya. Menurutnya ada tiga faktor yang menyebabkan antibiotik tidak efektif, yakni karena obatnya salah, kumannya sudah resisten, atau pasien yang tidak patuh meminum antibiotik sesuai dosis anjuran.

Untuk anak-anak, dosis antibiotik yang tepat tergantung pada berat badan dan pertimbangan apakah fungsi organ tubuhnya sudah berkembang sempurna. “Jangan takut memberikan antibiotik pada anak, asalkan dosisnya sesuai dan indikasi penyakitnya jelas,” kata Latre.

Selain itu Latre juga mengingatkan para orangtua agar tidak membeli sendiri antibiotik yang dijual bebas tanpa pertimbangan dokter. Beberapa keadaan yang perlu dicermati jika anak mengonsumsi antibiotik adalah gangguan saluran cerna, seperti diare, mual, muntah, hingga pembengkakan bibir atau mata dan gangguan napas. “Ada antibiotik jenis tertentu yang bisa merusak gigi dan menghambat pertumbuhan tulang pada anak,” demikian Latre. @ditulis kembali dari Kompas

Hipertensi Dapat Menyebabkan Kerusakan Ginjal

•31 Agustus 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Peningkatan tekanan darah hingga melebihi ambang batas normal (hipertensi) dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal dan bisa merupakan salah satu gejala munculnya penyakit ginjal.

Dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan ginjal hipertensi Dr.J. Pudji Rahardjo, SpPD-KGH di Jakarta, Rabu, menjelaskan bila tekanan darah melebihi 140 mmHg/90 mmHg maka aliran darah ke ginjal akan terganggu.

Bila salah satu faktor pendukung kerja ginjal, misalnya aliran darah ke ginjal, jaringan ginjal atau saluran pembuangan ginjal terganggu atau rusak maka fungsi ginjal akan terganggu atau berhenti sama sekali (gagal ginjal tahap akhir), kata dr. Pudji.

“Ateroskeloris menyebabkan aliran darah ke organ berkurang dan bisa mengakibatkan kematian sel organ, kalau organnya ginjal menyebabkan gagal ginjal,” ujarnya.

Ia menjelaskan, seorang penderita gagal ginjal tahap akhir hanya bisa bertahan hidup dengan menjalankan cuci darah (hemodialisis) seumur hidupnya.

“Dan itu biayanya sangat mahal, sekitar Rp600 ribu sampai Rp700 ribu untuk sekali dialisis. Padahal seorang penderita gagal ginjal paling tidak harus cuci darah dua kali seminggu,” jelasnya.

Lebih lanjut dijelaskan pula bahwa ada hubungan timbal balik antara hipertensi dan penyakit ginjal.

Adanya kerusakan pada bagian ginjal tertentu, terutama bagian korteks/lapisan luar, kata dia, akan merangsang produksi hormon renin yang akan menstimulasi terjadinya peningkatan tekanan darah dan hipertensi.

Selain itu, saat ginjal rusak ekskresi atau pengeluaran air dan garam akan terganggu sehingga mengakibatkan isi rongga pembuluh darah meningkat dan tekanan darah naik.

Hipertensi, yang sebagian besar disebabkan oleh faktor keturunan, kebiasaan makan garam, stress dan gangguan metabolisme lemak dan karbohidrat, merupakan gangguan kesehatan yang diderita 10 persen-30 persen orang dewasa di semua negara di dunia.

Terapi hipertensi yang ditujukan untuk menurunkan tekanan darah menjadi kurang dari 140 mmHg/90 mmHg, kata dia, bisa dilakukan dengan menggunakan obat-obat antihipertensi seperti diuretik, beta bloker, antagonis kalsium, ACE inhibitor, alfa bloker, dan angiotensin II antagonis.

“Penanganan hipertensi yang disertai kerusakan ginjal ditujukan untuk mencapai target ideal 130 mmHg/80 mmHg, dilakukan dengan lebih dari satu obat antihipertensi,” tambahnya.

Sementara upaya pencegahan, katanya, bisa dilakukan dengan menerapkan gaya hidup sehat, menghindari penggunaan produk tembakau dan alkohol, membatasi konsumsi kafein, dan mengukur tekanan darah secara rutin untuk deteksi dini. @Antara

Jatuh Dari Lantai Tujuh Seorang Balita Selamat

•22 Agustus 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Moskow – Dalam satu peristiwa yang boleh dibilang ajaib, seorang anak usia tiga tahun selamat setelah jatuh dari jendela rumahnya di lantai tujuh sebuah gedung di Siberia.

Kantor berita Interfax melaporkan, Selasa, balita itu mengalami banyak cedera patah tulang namun tidak sampai merenggut jiwanya.

Bayi laki-laki itu tinggal di kota Krasnoyarsk, dikabarkan bangun pada waktu lewat tengah malam dan memanjat jendela dapur tanpa diketahui kedua orang tuanya, kemudian jatuh ke atap apartemen di bawahnya.

Kedua orang tua si bayi hanya mengetahui kalau anak mereka itu hilang.

Subhanaullah, Allah Maha Besar.

Susu Onta untuk Obat Kanker dan Jantung

•13 Agustus 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Zat “al-nano” yang berasal dari susu onta dapat dijadikan kapsul untuk dikonsumsi sebagai obat melawan sel-sel kanker dan penyakit jantung.

Menurut Dr. Akram Askar, ahli penyakit dalam di rumah sakit (RS) King Khalid Riyadh, Arab Saudi, seperti dikutip harian Okaz Sabntu (11/8), Al-Nano itu mudah dicerna sehingga tepat untuk menghalangi perkembangan sel kanker.

“Penemuan Al-Nano sebenarnya pada 1989 setelah dilakukan penelitian medis selama lima tahun oleh Dr. Raymond Hamzer dari Belgia dan telah disiarkan di salah satu jurnal medis terkenal,” papar Akram.

Zat yang dikeluarkan dari susu binatang yang dikenal dengan sebutan “safinatus sahra” (kapal padang pasir) itu, juga disebut sebagai penangkal kelebihan zat asam pada perut.

Luarbiasa! (sumber:Antara)

Telur Bertuliskan Allah Di Bandung

•31 Juli 2007 • 5 Komentar

Sebutir telur berlafadz Allah milik Ucup Supari (28) seorang pedagang telur gulung di kawasan Kiaracondong, Kota Bandung, menggemparkan warga setempat dan mereka pun berdatangan untuk melihat telur aneh itu dari dekat. “Telur itu dibeli di warung Pak Cecep sepekan lalu. Setelah diteliti, dari beberapa butir telur ayam negeri itu salah satunya ada yang aneh. Saat diamati secara seksama ternyata berlafadz Allah,” kata Ucup Supari, Senin.

Ditemui wartawan di kediamannya di Jalan Kiaracondong Barat, Nomor 68, RT 05/08, Kelurahan Kebon Gedang, Kecamatan Batununggal, Ucup, mengatakan, telur berlafadz Allah yang menyembul dari kulit telur yang berwarna coklat itu sudah dikonsultasikan kepada sejumlah ustadz termasuk Aa Gym. “Menurut pendapat sejumlah ustadz, kulit telur ayam negeri milik saya itu memang berlafadz Allah dan mereka meminta agar saya menjaga telur tersebut dengan sebaik-baiknya,” kata Ucup yang mengaku lebih bersemangat hidup setelah mendapatkan telur aneh tersebut.

Kini telur tersebut dipamerkan di rumahnya dan sejak tiga hari lalu sudah banyak warga yang berkeinginan untuk melihat dari dekat telur aneh milik Ucup Supari itu.(*)

Penelitian Terbaru, Kulit Semangka Bisa Menjadi Obat

•25 Juli 2007 • 2 Komentar

Hasil penelitian terbaru, seperti dikutip kantor berita Arab Saudi (SPA) Minggu (22/7), menyebutkan bahwa kulit semangka juga dapat menyembuhkan sedikitnya lima macam penyakit.

Penyakit-penyakit yang bisa disembuhkan oleh kulit semangka adalah darah tinggi kronis, radang ginjal, sulit buang air kecil, sulit buang air besar kronis dan penyakit dropsy (sakit gembur-gembur).

Hasil penelitian yang dilakukan Lembaga Medis Biologi yang disiarkan oleh Majalah Riset Medis Yordania itu juga memberikan jaminan bagi pasien dapat sembuh setelah melakukan pengobatan selama sebulan dengan teratur.

Untuk darah tinggi disarankan untuk mengeringkan kulit semangka lalu ditumbuk halus. Setiap hari diambil 20 gram dari kulit yang telah ditumbuk itu dan dimasak dengan air secukupnya. Pasien yang meminumnya secara teratur selama sebulan, penyakit darah tingginya bisa tersembuhkan secara total.Sedangkan empat penyakit lainnya disarankan untuk memotong kecil kulit semangka tersebut lalu dimasak sehingga menjadi adonan lalu disimpan di dalam botol kaca yang ditutup rapi.

Pasien penderita radang ginjal, sulit buang air kecil, sulit buang air besar kronis dan penyakit gembur-gembur, dianjurkan memakan adonan tersebut satu sendok makan sehari sebelum sarapan selama sebulan.“Apabila pasien mengikuti petunjuk tersebut dengan teratur paling sedikit selama sebulan penuh, maka penyakit-penyakit tersebut akan sembuh total dengan izin Allah,” demikian hasil penelitian tersebut.

Dengan adanya hasil penelitian terbaru tersebut, warga Arab yang dikenal memang doyan makan buah semangka, kemungkinan tidak akan membuang kulitnya ke sampah, tapi akan disimpan menjadi bahan obat.(*) @Antara

Nyeri Kepala Gejala Awal Tumor Otak

•24 Juli 2007 • 29 Komentar

Nyeri kepala adalah nyeri yang paling banyak dikeluhkan penderita selain nyeri pinggang saat berobat ke dokter, dan nyeri kepala merupakan gejala awal yang diderita sekitar 30 persen pederita tumor otak.

“Gejala tumor otak tergantung letak dan kecepatan pertumbuhannya. Namun gejalanya muncul secara tersamar yang biasanya dimulai dengan gangguan mental ringan yang hanya dapat dirasakan oleh orang yang berhubungan dekat dengan penderita, seperti mudah tersinggung, emosinya labil, pelupa, lamban dan kurang inisiatif, serta depresi,” kata dokter ahli saraf di Lampung, dr Ruth Mariva SpS di Bandarlampung, Sabtu.

Dalam seminar sehari tentang nyeri kepala yang diselenggarakan RS Imanuel Way Halim, di Bandarlampung itu, Ruth mengatakan nyeri kepala biasanya sulit digambarkan dan bervariasi, mulai dari yang ringan dan episodik sampai berat dan berdenyut atau meletup, yang umumnya bertambah berat pada malam, saat bangun pagi dan saat perubahan posisi.

Pada awalnya, nyeri kepala tumor disebabkan pembengkakan lokal sekitar tumor atau akibat kerusakan pembuluh darah sekitar tumor, dan akhirnya disebabkan oleh tekanan tinggi di dalam kepala.

Selain nyeri kepala, katanya, pada tumor otak juga ditemukan gejala mual muntah terutama jika lokasi tumor di bagian belakang, kejang- kejang, dan mengalami gangguan penglihatan dan kelemahan saraf lainnya.

“Penderita biasanya datang ke dokter dengan keluhan nyeri kepala di daerah depan (dahi) dan kepala belakang, yang biasanya sudah berlangsung lama dan progresif,” katanya.

Berdasarkan penelitian IHS (International Headache Society) tahun 1988 dan disepakati oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI), terdapat 13 kelompok nyeri kepala, di antaranya adalah migren, nyeri kepala tipe tegang, nyeri kepala akibat trauma kepala, nyeri kepala akibat infeksi, dan nyeri kepala akibat gangguan metabolik.

Jika dilihat dari waktu dan lamanya serangan, nyeri kepala dapat dibagi atas nyeri kepala akut dan kronis.

Menurut dr Ruth, nyeri kepala akut dan hebat memerlukan penanganan segera karena merupakan gejala dari penyakit- penyakit berbahaya, seperti penyakit pada pembuluh darah otak (stroke, thrombosis, hipertensi maligna), infeksi otak ( meningitis, ensefalitis, abses) dan keracunan karbon monoksida.

Disebutkannya, kebanyakan nyeri kepala merupakan gejala yang ringan, namun dapat juga sebagai gejala suatu penyakit yang serius atau berbahaya, misalnya apabila nyeri kepala hebat secara tiba-tiba, bertambah berat dan progresif, disertai kejang dan pingsan, terjadi saat aktifitas dan gangguan penglihatan.

Ruth menambahkan , nyeri kepala harus ditangani secara komprehensif, tidak hanya mengobati gejala/ keluhannya saja dengan memberikan obat penghilang nyeri, tetapi juga dengan mendeteksi dan menyingkirkan penyebab terjadinya keluhan tersebut.

Penggunaan obat nyeri kepala yang tidak tepat dan berlebihan akan menimbulkan ketergantungan dan nyeri kepala susulan yang berkepanjangan.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyebutkan bahwa 20 persen pasien yang berobat ke Poliklinik Saraf RS Imanuel Bandarlampung, Januari- Juni 2007, adalah penderita nyeri kepala. Sekitar 65 persen penderitanya adalah wanita dan lebih dari 50 persen menderita nyeri kepala tegang.
(*)@Antara

Kenali Penyebab Nyeri Pada Saat Melahirkan

•19 Juni 2007 • 1 Komentar

Mendekati proses persalinan berbagai perasaan akan campur aduk dalam hati para ibu hamil. Selain tak sabar ingin melihat buah hatinya lahir ke dunia, rasa takut dan cemas menghadapi proses persalinan pun berkecamuk dalam pikiran. Melahirkan dan rasa sakit memang sudah menjadi kesatuan yang tak bisa dipisahkan.

Ketika bersalin, sebagian besar wanita memang mengalami nyeri yang sangat hebat, bahkan terkadang melebihi dugaan mereka sebelumnya. Menurut dr.Iskandar Zulkarnaen, Spesialis Anastesi dari Klinik SamMarie, Jakarta, nyeri pada proses persalinan terjadi akibat adanya kerusakan jaringan yang nyata.

Nyeri pada proses persalinan akan melalui empat tahap, yakni tahap I (pembukaan), biasanya nyeri pada tahap ini diakibatkan kontraksi rahim dan peregangan mulut rahim. Tahap II (kelahiran), nyeri timbul karena peregangan dasar panggul dan pengguntingan perineum (bibir kemaluan) jika diperlukan. Tahap III adalah nyeri yang timbul karena pelepasan plasenta, dan tahap terakhir nyeri yang ditimbulkan karena penjahitan luka perineum.

“Agar rasa sakit tidak muncul, pusat nyeri harus diblok,” kata dr.Iskandar. Cara mengatasi nyeri bisa berupa pemberian obat-obatan maupun tanpa obat. Sebenarnya sejak tahun 1874 telah digunakan metode penghilang nyeri saat persalinan, yakni dengan menggunakan diethyl ether. Namun saat ini dokter banyak menggunakan obat analgetik untuk mengurangi nyeri.

Untuk mengurangi efek samping akibat penyuntikan obat, bagian yang diblok hanya pusat otot sensoriknya saja yang disuntikkan di bagian punggung atau tulang belakang, atau disebut juga dengan analgesia epidural. Dosis yang dipakai pun sangat sedikit sehingga pengaruhnya pada ibu dan bayi sangat minimal.

Sementara itu, cara non farmakalogi yang bisa dilakukan untuk menghilangkan nyeri antara lain mempersiapkan mental sejak awal kehamilan. “Jika calon ibu dalam keadaan tenang dan rileks, maka rasa sakit ketika kontraksi tidak akan terlalu dirasa,” ujarnya. Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan mengikuti senam hamil yang akan membantu refleks saat melahirkan. Kompas.com